Di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi.
Tuhan berkata kepada sang sapi
“Hari ini kuciptakan kau Sebagai sapi engkau harus pergi ke padang rumput.
Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjang hari. Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun”.
Sang Sapi keberatan, “Kehidupanku akan
sangat berat selama 50 tahun.
Kiranya 20 tahun cukuplah buatku.
Kukembalikan kepada Mu yang 30 tahun.”
Maka setujulah Tuhan.
Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet.
“Hai monyet, hiburlah manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!”
Sang monyet menjawab: “What? Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun pada Mu”
Maka setujulah Tuhan.
Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing.
“Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggonggongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun..”
Sang anjing menolak,
“Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ? No way..! Kukembalikan 10 tahun pada Mu” Maka setujulah Tuhan.
Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia.
Sabda Tuhan :
“Tugasmu adalah makan, tidur dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 25 tahun!”
Sang manusia keberatan, katanya
“Menikmati kehidupan selama 25 tahun? Itu terlalu pendek Tuhan.”
Let’s make a deal. [jaman dulu udah ada bahasa inggris ya =)) )
Karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya pada Mu, berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun. Setuju ?”
Maka setujulah Tuhan.
AKIBATNYA… ……… ……… ……….
Pada 25 tahun pertama kehidupan sebagai manusia dijalankan kita makan, tidur dan bersenang-senang.
30 tahun berikutnya menjalankan kehidupan layaknya seekor sapi kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita.
10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet yang menghibur.
Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu dan menggonggong kepada orang yang lewat : Uhuk, uhuk (batuk)…
“Woi lae, mo kemane lo?”
Hahahahahaa. …
Jumat, 09 April 2010
Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal itu menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini,
“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,
“Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab,
“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
“Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,
“Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu?
Tentu saja dingin itu ada. "Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”
Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah “Albert Einstein” (kog gak MABON ja y?????).
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal itu menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini,
“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,
“Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab,
“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
“Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,
“Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu?
Tentu saja dingin itu ada. "Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”
Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah “Albert Einstein” (kog gak MABON ja y?????).
Kisah - Kasih Guru Dan Murid
G: Guru
M: Murid
1. Ngeles gak ngerjain PR
G: Kenapa kamu gak ngerjain PR?
M: Saya males bu!
G: Gimana mau pinter kamu?
M: Belajar bu!
G: Lantas kenapa kamu gak ngerjain PR?
M: Karena saya bingung mau belajar dulu ato ngerjain PR, ato belajar terus ngerjain PR, ato ngerjain PR terus saya gak belajar?
G: !@#$%^*?
2. Pengen kabur ke UKS
M: Ibu saya izin ke UKS ya bu. Kepala saya pusing.
G: Alasan aja kamu! Apa buktinya?
M: Daritadi saya merhatiin ibu, saya gak ngerti2. Saya baca bukunya, gak ngerti juga. Saya muter2 nyari yang bisa ngajarin, gak ketemu, yang ada malah pusing bu!
G: !@#$%^*?
3. Ke toilet
M: Ibu guru, saya kebelet pingin buang air kecil!
G: Yasudah sana! Jangan lama-lama!
(setelah 30 menitan, si Murid baru kembali)
G: Lama sekali kamu? Ngapain aja kamu sampe setengah jam?
M: kan saya pipis bu, terus saya siram2 tapi air di pispotnya gak ilang-ilang. saya bingung, ya saya tinggal aja
G: !@#$%^*?
4. Cabut ke kantin
M: Bu saya izin ya ambil foto kopi (yang kebetulan di deket kantin)
G: Fotokopi apa kamu?
M: Tugas bu, dari ibu saya! Ini penting sekali!
G: Baiklah bergegas ya!
(Lagi lagi lama banget eh baru nongol si Murid!)
G: Ya ampun kamu lama banget sih?
M: Iya bu foto kopinya lama!
G: Masa sih? Emang kamu foto kopi apa?
M: Buku resep masakan punya ibu
G: Tapi kok lama sekali?
M: Iya bu ini buat ibu-ibu satu RT, nah ibu-ibu satu RT ini fotokopi juga buat sepupunya, nah sepupunya ini juga nitip foto…..
G: Udah udah duduk kamu sana! !@#$%^*?
5. Presentasi belom buat
G: Ya kamu mana presentasinya?
M: Ketinggalan bu!
G: Dimana? kok bisa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Kenapa lupa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Apa yang kamu ingat?
M: Presentasi saya ketinggalan bu!
G: Dimana? kok bisa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Kenapa lupa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Terus apa yang kamu ingat?
M: Ya tadi itu bu, presentasi saya ketinggalan
G: !@#$%^*
6. Nyontek saat ulangan
G: Kamu udah berani nyontek ya?
M: Maaf bu, saya terpaksa!
G: Siapa yang maksa kamu?
M: Ibu!
G: Kok ibu?
M: Ibu membuat saya merasa terpaksa mengerjakan soal yang saya tidak tau jawabannya,dan saya juga jadi terpaksa bertanya sama teman, tapi mereka gak mau akhirnya saya paksa juga akhirnya saya dapet jawabannya
G: Ini semua karena kamu tidak belajar!
M: Saya belajar bu, siapa bilang gak belajar?
G: Kamu yakin?
M: Ya ibu membuat saya terpaksa belajar materi yang saya paksakan untuk mengerti tapi saya gak ngerti juga
G: !@#$%^*?
7. Lulus saat ujian
G: Selamat ya nak kamu lulus ujian!
M: Sama-sama bu!
G: Kamu diam-diam pintar juga ya nak!
M: Ah ibu bisa saja.
G: Gimana kamu bisa lulus ujian nasional?
M: Pake cara nomor 6 (baca no 6)bu, untung gak ketauan!
G: !@#$%^*?
M: Murid
1. Ngeles gak ngerjain PR
G: Kenapa kamu gak ngerjain PR?
M: Saya males bu!
G: Gimana mau pinter kamu?
M: Belajar bu!
G: Lantas kenapa kamu gak ngerjain PR?
M: Karena saya bingung mau belajar dulu ato ngerjain PR, ato belajar terus ngerjain PR, ato ngerjain PR terus saya gak belajar?
G: !@#$%^*?
2. Pengen kabur ke UKS
M: Ibu saya izin ke UKS ya bu. Kepala saya pusing.
G: Alasan aja kamu! Apa buktinya?
M: Daritadi saya merhatiin ibu, saya gak ngerti2. Saya baca bukunya, gak ngerti juga. Saya muter2 nyari yang bisa ngajarin, gak ketemu, yang ada malah pusing bu!
G: !@#$%^*?
3. Ke toilet
M: Ibu guru, saya kebelet pingin buang air kecil!
G: Yasudah sana! Jangan lama-lama!
(setelah 30 menitan, si Murid baru kembali)
G: Lama sekali kamu? Ngapain aja kamu sampe setengah jam?
M: kan saya pipis bu, terus saya siram2 tapi air di pispotnya gak ilang-ilang. saya bingung, ya saya tinggal aja
G: !@#$%^*?
4. Cabut ke kantin
M: Bu saya izin ya ambil foto kopi (yang kebetulan di deket kantin)
G: Fotokopi apa kamu?
M: Tugas bu, dari ibu saya! Ini penting sekali!
G: Baiklah bergegas ya!
(Lagi lagi lama banget eh baru nongol si Murid!)
G: Ya ampun kamu lama banget sih?
M: Iya bu foto kopinya lama!
G: Masa sih? Emang kamu foto kopi apa?
M: Buku resep masakan punya ibu
G: Tapi kok lama sekali?
M: Iya bu ini buat ibu-ibu satu RT, nah ibu-ibu satu RT ini fotokopi juga buat sepupunya, nah sepupunya ini juga nitip foto…..
G: Udah udah duduk kamu sana! !@#$%^*?
5. Presentasi belom buat
G: Ya kamu mana presentasinya?
M: Ketinggalan bu!
G: Dimana? kok bisa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Kenapa lupa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Apa yang kamu ingat?
M: Presentasi saya ketinggalan bu!
G: Dimana? kok bisa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Kenapa lupa?
M: Saya juga lupa bu!
G: Terus apa yang kamu ingat?
M: Ya tadi itu bu, presentasi saya ketinggalan
G: !@#$%^*
6. Nyontek saat ulangan
G: Kamu udah berani nyontek ya?
M: Maaf bu, saya terpaksa!
G: Siapa yang maksa kamu?
M: Ibu!
G: Kok ibu?
M: Ibu membuat saya merasa terpaksa mengerjakan soal yang saya tidak tau jawabannya,dan saya juga jadi terpaksa bertanya sama teman, tapi mereka gak mau akhirnya saya paksa juga akhirnya saya dapet jawabannya
G: Ini semua karena kamu tidak belajar!
M: Saya belajar bu, siapa bilang gak belajar?
G: Kamu yakin?
M: Ya ibu membuat saya terpaksa belajar materi yang saya paksakan untuk mengerti tapi saya gak ngerti juga
G: !@#$%^*?
7. Lulus saat ujian
G: Selamat ya nak kamu lulus ujian!
M: Sama-sama bu!
G: Kamu diam-diam pintar juga ya nak!
M: Ah ibu bisa saja.
G: Gimana kamu bisa lulus ujian nasional?
M: Pake cara nomor 6 (baca no 6)bu, untung gak ketauan!
G: !@#$%^*?
Samosir Menyimpan Sejarah Wisata Yang Tak Pernah Punah
Mempersoalkan potensi wisata alam Samosir tampaknya tidak akan pernah habis. Hal ini dikarenakan karena potensi alam yang dimiliki memang sangat banyak terutama soal keindahan alam dan tempat wisata yang mengandung sejarah.
Dan salah satunya adalah wisata sejarah adalah Puncak Gunung Pusuk Buhit yang dimana Gunung tersebut memiliki ketinggian berkisar 1.800 mdpl dan ditumbuhi berbagai jenis pepohonan dan diatas puncak gunung Pusuk Buhit juga ada sebuah tempat persebahan yang sudah di percayai oleh masyarakat Batak yaitu Batu Sawan dan konon ditempat itulah orang batak diturunkan.
Dahulu kala menurut kepercayaan masyarakat batak di Gunung Pusuk Buhitlah untuk yang pertama sekalinya Sang Pencipta Alam Semesta menurunkan orang batak pertama kalinya yang sering disebut oleh Suku Batak dengan sebutan Mula Jadi Nabolon. Dan pada abad ke- XII keturunan pertama kali Orang Batak yang bernama Siraja Batak singgah di wilayah Samosir. Siraja Batak memiliki anak yang bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Menurut garis keturunan suku batak bahwa Guru Tatea Bulan juga merupakan leluhur tua dari Raja Sisingamangaraja. Jadi sangatlah wajar kalau sampai saat ini kawasan Gunung Pusuk Buhit masih keramat dan menjadi salah satu kawasan objek tujuan wisata serta memiliki cerita sejarah bagi kaum orang batak hingga saat ini.
Memang membicarakan potensi wisata Samosir memang tidak akan merasa puas bila kita tidak langsung datang dan menginjakan kaki kita di Pulau Samosir . Hal ini wajar karena potensi-potensi wisata yang dimiliki sangat banyak terutama soal keindahan alam. Bila dipadukan dengan cerita sejarah, boleh dibilang daerah ini adalah salah satu lumbung dari cerita sejarah yang bisa menemani perjalanan wisata Anda. Dari sekian banyak yang bisa dinikmati misalnya Batu Hobon, Sopo Guru Tatea Bulan, Perkampungan Siraja Batak, Pusuk Buhit, dan lainnya.
Di atas perbukitan ini kita dapat melihat secara langsung , sebagai wisatawan yang baru pertama berkunjung ke sana pastilah akan tertegun sejenak. Karena selain panorama yang disajikan memang sangat indah, kita juga bisa melihat secara leluasa sebagian besar kawasan perairan Danau Toba sekaligus Pulau Samosirnya. Selain itu dari lereng perbukitan tersebut pengunjung yang datang bisa juga menikmati panorama perkampungan yang berada di antara lembah-lembah perbukitan seperti perkampungan Sagala, Perkampungan Hutaginjang yang membentang luas.
Selain pemandangan ini, wisatawan yang pernah datang ke sana tentunya akan melihat dan mendengar gemercik aliran air terjun yang berada persis di perbukitan berdekatan dengan perkampungan Sagala. Masih dari lereng bukit yang jalannya berkelok-kelok tetapi sudah beraspal dengan lebar berkisar 4 meter, pengunjung juga bisa memperhatikan kegiatan pertanian yang dikerjakan oleh masyarakat sekitarnya. Malah yang lebih asyik lagi adalah menikmati matahari yang akan terbenam dari celah bukit dengan hutan pinusnya.
Bila kita hendak menjelejahi puncak gunung tersebut para wisatawan pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua namun kendaraan tersebut tidak dapat mengantar kita sampai ke puncak melainkan hanya sampai perkampungan yang berada di lereng bukit bukit tersebut nama perkampungan tersebut adalah desa huta ginjang , kecamatan sianjur mula-mula dan dari desa itu juga kiata dapat memandang dengan segsama keindahan panorama danau toba
Dan bukan hanya itu saja bila kita menelusuri Gunung Pusuk Buhit pengunjung juga dapat menikmati apa apa yang disebut dengan sumur tujuh rasa karena konon ceritanya menurut keterangan dari penduduk setempat sumur ini memiliki tujuh pancuran yang memiliki rasa air yang berbeda-beda dan bagi masyarakat ketujuh sumur tersebut menjadi sumber kebutuhan air bersih. Sehingga tidak mengherankan kalau wisatawan datang, banyak masyarakat yang menggunakan air yang berada di sana
Sumur Tujuh Rasa letaknya berdekatan dengan pusuk Buhit yang berada di Desa Sipitudai satu kecamatan Sianjur Mula-Mula. Kita dapat mencoba merasakan ketujuh air mancur tersebut, dan bila kita percaya akan air mancur tersebut kita akan merasakan rasa : asin, tawar, asam, kesat serta rasa yang lainnya yang dikeluarkan dari masing-masing pancuran air tersebut dan menurut dari keterangan penduduk setempat air tersebut berasal dari bawah pohon beringin yang tumbuh dan menjadi perindang lokasi tujuh sumur tersebut yang posisinya berada di atas mata air tersebut.
Keberadaan aek sipitudai ini sudah ada sejak lama sejak dari si Raja Batak. Dan sangat dipercayai kesakralanya dari cerita Legenda Siraja Batak yang berada di lokasi tersebut. Maka oleh karena itu kita bias tahu bahwa dahulu ada kerajaan yang memerlukan sumber airnya berasal dari Aek Sipitudai sebab lokasi tempat ini lumayan jauh dari Danau Toba.
Cerita legenda tersebut memang ada benarnya dengan adanya fakta peninggalan yang berada di lokasi Aek Sipitudai seperti : batu cucian dari batu alam, Tembok beton, lubang-lubang untuk permainan congkak. Seluruh masyarakat batak khususnya yang berada di dekat lokasi tersebut mempercayai kalau sumur ini masih keramat dan menjadi salah satu objek wisata yang dikunjungi wisatawan walaupun, lokasi tersebut masih membutuhkan piƱata yang baik lagi dari masyrakat dan Pemerintah agar tempat tersebut senantiasa dapat menarik pengunjung yang datang.
Setelah bergerak dari Aek Sipitudai maka kita akan menuju sebuah tempat yang tidak jauh dari tempat tadi akan menemukan satu lokasi yang keramat yang disebut lokasi Batu Hobon, Sopo Guru Tatean Bulan atau Rumah Guru Tatea Bulan serta perkampungan Siraja Batak yang lokasinya tidak berjauhan. Di tempat Sopo Guru Tatea Bulan kita akan menemukan patung-patung Siraja Batak dengan keturunannya. Dan bukan hanya patung orang saja yang akan kita lihat tetapi kita juga akan menemukan patung-patung sebagai penjaga rumah seperti gajah, macan, kuda.
Bentuk rumah ini pun di desain dengan cirri khas rumah batak. Bila kita hendak masuk kedalam kita sewajibnya harus membuka alas kaki kita dan kita dapat melihat denagan seksama di Sopo Guru Tatea Bulan akan kita temukan patung-patung keturunan Siraja Batak, seperti Patung Seribu raja sepasang dengan istrinya, Patung keturunan Limbong Mulana, Patung Segala Raja serta Patung Silau Raja. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Batak marga-marga yang ada sekarang ini berasal dari keturunan Siraja Batak. Selain itu keberadaan rumah ini juga telah diresmikan oleh DewanPengurus Pusat Punguan Pomparan Guru Tate Bulan tahun 1995 yang lalu. Dan disitu juga kita akan dipandu oleh pemandu yang akan menerangkan cerita dari patung-patung si raja batak dengan keturunannya.
Sejalan dengan itu, pengunjung dapat menikmati Batu Hobbon yang konon menurut cerita merupakan lokasi yang dijadikan penyimpanan harta oleh Siraja Batak. Batu ini berada perbukitan yang lebih rendah lagi dari Sopo Guru Tatea Bulan berdekatan dengan perkampungan masyarakat. berdasarkan sejarah Batu Hobon ini tidak bisa dipecahkan, tetapi kalau dipukul seperti ada ruangan di bawahnya. Namun sampai sekarang tidak bisa dibuka walaupun dilakukan dengan senjata mortir.
Selanjutnya untuk melengkapi perjalanan tentang sejarah Sopo Guru Tatea Bulan, maka akan ditemukan perkampungan Siraja Batak Selain itu, di desa ini terdapat cagar budaya berupa miniatur Rumah Si Raja Batak. Dahulunya, sebutan Raja Batak ternyata bukan karena posisinya sebagai raja dan memiliki daerah pemerintahan, melainkan lebih pada penghormatan terhadap nenek moyang Suku Batak. Di perkampungan ini, ada bangunan rumah semi tradisional Batak, yang merupakan rumah panggung terbuat dari kayu, tanpa paku, dilengkapi tangga, dan atap seng. Lokasi perkampungan ini berada di perbukitan yang berada di atasnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh sekali kurang lebih 500 meter.
Untuk kelengkapan perjalanan menuju Pusuk Buhit setidaknya harus berhenti sejenak di atas perbukitan yang berada di Desa Huta Ginjang. Karena dari lokasi desa ini akan terlihat jelas Pulau Tulas yang berdampingan dengan Pulau Samosir. Pulau Tulas itu sendiri tidak memiliki penghuni tetapi ditumbuhi dengan semak belukar dan hidup berbagai hewan liar lainnya.
Sesampainya kita di Puncak Gunung Pusuk Buhit untuk meraskan keindahan alam Danau Toba, Tiupan semilir angin, dan kiata dapat menyaksikan Sunset Yang tenggelam dan pada saat itu kita akan merasa kan bahwa keindahan Danau Toba Yang dimiliki Pulau Samosir benar-benar indah. Setelah kita puas memandang dengan keindahan alam kita dapat turun dari puncak menuju aek ranggat yang berada di kaki Puncak Gunung Pusuk Buhit desa siogung-ogung dan di Aek Ranggat ini kita dapat memanjakan diri dengan berendam melepas lelah di dalam kolam. Maka lengkaplah perjalanan wisata sejarah Samosir yang tak akan pernah punah dan tak dapat dilupakan karena bukan hanya itu saja cerita wisata Samosir tetapi masih banyak lagi cerita wisata Samosir yang masih dapat kita angkat dan kita tunjukan kepada masyarakat yang berada di luar Samosir baik Nasional maupun Internasional.
Dan salah satunya adalah wisata sejarah adalah Puncak Gunung Pusuk Buhit yang dimana Gunung tersebut memiliki ketinggian berkisar 1.800 mdpl dan ditumbuhi berbagai jenis pepohonan dan diatas puncak gunung Pusuk Buhit juga ada sebuah tempat persebahan yang sudah di percayai oleh masyarakat Batak yaitu Batu Sawan dan konon ditempat itulah orang batak diturunkan.
Dahulu kala menurut kepercayaan masyarakat batak di Gunung Pusuk Buhitlah untuk yang pertama sekalinya Sang Pencipta Alam Semesta menurunkan orang batak pertama kalinya yang sering disebut oleh Suku Batak dengan sebutan Mula Jadi Nabolon. Dan pada abad ke- XII keturunan pertama kali Orang Batak yang bernama Siraja Batak singgah di wilayah Samosir. Siraja Batak memiliki anak yang bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Menurut garis keturunan suku batak bahwa Guru Tatea Bulan juga merupakan leluhur tua dari Raja Sisingamangaraja. Jadi sangatlah wajar kalau sampai saat ini kawasan Gunung Pusuk Buhit masih keramat dan menjadi salah satu kawasan objek tujuan wisata serta memiliki cerita sejarah bagi kaum orang batak hingga saat ini.
Memang membicarakan potensi wisata Samosir memang tidak akan merasa puas bila kita tidak langsung datang dan menginjakan kaki kita di Pulau Samosir . Hal ini wajar karena potensi-potensi wisata yang dimiliki sangat banyak terutama soal keindahan alam. Bila dipadukan dengan cerita sejarah, boleh dibilang daerah ini adalah salah satu lumbung dari cerita sejarah yang bisa menemani perjalanan wisata Anda. Dari sekian banyak yang bisa dinikmati misalnya Batu Hobon, Sopo Guru Tatea Bulan, Perkampungan Siraja Batak, Pusuk Buhit, dan lainnya.
Di atas perbukitan ini kita dapat melihat secara langsung , sebagai wisatawan yang baru pertama berkunjung ke sana pastilah akan tertegun sejenak. Karena selain panorama yang disajikan memang sangat indah, kita juga bisa melihat secara leluasa sebagian besar kawasan perairan Danau Toba sekaligus Pulau Samosirnya. Selain itu dari lereng perbukitan tersebut pengunjung yang datang bisa juga menikmati panorama perkampungan yang berada di antara lembah-lembah perbukitan seperti perkampungan Sagala, Perkampungan Hutaginjang yang membentang luas.
Selain pemandangan ini, wisatawan yang pernah datang ke sana tentunya akan melihat dan mendengar gemercik aliran air terjun yang berada persis di perbukitan berdekatan dengan perkampungan Sagala. Masih dari lereng bukit yang jalannya berkelok-kelok tetapi sudah beraspal dengan lebar berkisar 4 meter, pengunjung juga bisa memperhatikan kegiatan pertanian yang dikerjakan oleh masyarakat sekitarnya. Malah yang lebih asyik lagi adalah menikmati matahari yang akan terbenam dari celah bukit dengan hutan pinusnya.
Bila kita hendak menjelejahi puncak gunung tersebut para wisatawan pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua namun kendaraan tersebut tidak dapat mengantar kita sampai ke puncak melainkan hanya sampai perkampungan yang berada di lereng bukit bukit tersebut nama perkampungan tersebut adalah desa huta ginjang , kecamatan sianjur mula-mula dan dari desa itu juga kiata dapat memandang dengan segsama keindahan panorama danau toba
Dan bukan hanya itu saja bila kita menelusuri Gunung Pusuk Buhit pengunjung juga dapat menikmati apa apa yang disebut dengan sumur tujuh rasa karena konon ceritanya menurut keterangan dari penduduk setempat sumur ini memiliki tujuh pancuran yang memiliki rasa air yang berbeda-beda dan bagi masyarakat ketujuh sumur tersebut menjadi sumber kebutuhan air bersih. Sehingga tidak mengherankan kalau wisatawan datang, banyak masyarakat yang menggunakan air yang berada di sana
Sumur Tujuh Rasa letaknya berdekatan dengan pusuk Buhit yang berada di Desa Sipitudai satu kecamatan Sianjur Mula-Mula. Kita dapat mencoba merasakan ketujuh air mancur tersebut, dan bila kita percaya akan air mancur tersebut kita akan merasakan rasa : asin, tawar, asam, kesat serta rasa yang lainnya yang dikeluarkan dari masing-masing pancuran air tersebut dan menurut dari keterangan penduduk setempat air tersebut berasal dari bawah pohon beringin yang tumbuh dan menjadi perindang lokasi tujuh sumur tersebut yang posisinya berada di atas mata air tersebut.
Keberadaan aek sipitudai ini sudah ada sejak lama sejak dari si Raja Batak. Dan sangat dipercayai kesakralanya dari cerita Legenda Siraja Batak yang berada di lokasi tersebut. Maka oleh karena itu kita bias tahu bahwa dahulu ada kerajaan yang memerlukan sumber airnya berasal dari Aek Sipitudai sebab lokasi tempat ini lumayan jauh dari Danau Toba.
Cerita legenda tersebut memang ada benarnya dengan adanya fakta peninggalan yang berada di lokasi Aek Sipitudai seperti : batu cucian dari batu alam, Tembok beton, lubang-lubang untuk permainan congkak. Seluruh masyarakat batak khususnya yang berada di dekat lokasi tersebut mempercayai kalau sumur ini masih keramat dan menjadi salah satu objek wisata yang dikunjungi wisatawan walaupun, lokasi tersebut masih membutuhkan piƱata yang baik lagi dari masyrakat dan Pemerintah agar tempat tersebut senantiasa dapat menarik pengunjung yang datang.
Setelah bergerak dari Aek Sipitudai maka kita akan menuju sebuah tempat yang tidak jauh dari tempat tadi akan menemukan satu lokasi yang keramat yang disebut lokasi Batu Hobon, Sopo Guru Tatean Bulan atau Rumah Guru Tatea Bulan serta perkampungan Siraja Batak yang lokasinya tidak berjauhan. Di tempat Sopo Guru Tatea Bulan kita akan menemukan patung-patung Siraja Batak dengan keturunannya. Dan bukan hanya patung orang saja yang akan kita lihat tetapi kita juga akan menemukan patung-patung sebagai penjaga rumah seperti gajah, macan, kuda.
Bentuk rumah ini pun di desain dengan cirri khas rumah batak. Bila kita hendak masuk kedalam kita sewajibnya harus membuka alas kaki kita dan kita dapat melihat denagan seksama di Sopo Guru Tatea Bulan akan kita temukan patung-patung keturunan Siraja Batak, seperti Patung Seribu raja sepasang dengan istrinya, Patung keturunan Limbong Mulana, Patung Segala Raja serta Patung Silau Raja. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Batak marga-marga yang ada sekarang ini berasal dari keturunan Siraja Batak. Selain itu keberadaan rumah ini juga telah diresmikan oleh DewanPengurus Pusat Punguan Pomparan Guru Tate Bulan tahun 1995 yang lalu. Dan disitu juga kita akan dipandu oleh pemandu yang akan menerangkan cerita dari patung-patung si raja batak dengan keturunannya.
Sejalan dengan itu, pengunjung dapat menikmati Batu Hobbon yang konon menurut cerita merupakan lokasi yang dijadikan penyimpanan harta oleh Siraja Batak. Batu ini berada perbukitan yang lebih rendah lagi dari Sopo Guru Tatea Bulan berdekatan dengan perkampungan masyarakat. berdasarkan sejarah Batu Hobon ini tidak bisa dipecahkan, tetapi kalau dipukul seperti ada ruangan di bawahnya. Namun sampai sekarang tidak bisa dibuka walaupun dilakukan dengan senjata mortir.
Selanjutnya untuk melengkapi perjalanan tentang sejarah Sopo Guru Tatea Bulan, maka akan ditemukan perkampungan Siraja Batak Selain itu, di desa ini terdapat cagar budaya berupa miniatur Rumah Si Raja Batak. Dahulunya, sebutan Raja Batak ternyata bukan karena posisinya sebagai raja dan memiliki daerah pemerintahan, melainkan lebih pada penghormatan terhadap nenek moyang Suku Batak. Di perkampungan ini, ada bangunan rumah semi tradisional Batak, yang merupakan rumah panggung terbuat dari kayu, tanpa paku, dilengkapi tangga, dan atap seng. Lokasi perkampungan ini berada di perbukitan yang berada di atasnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh sekali kurang lebih 500 meter.
Untuk kelengkapan perjalanan menuju Pusuk Buhit setidaknya harus berhenti sejenak di atas perbukitan yang berada di Desa Huta Ginjang. Karena dari lokasi desa ini akan terlihat jelas Pulau Tulas yang berdampingan dengan Pulau Samosir. Pulau Tulas itu sendiri tidak memiliki penghuni tetapi ditumbuhi dengan semak belukar dan hidup berbagai hewan liar lainnya.
Sesampainya kita di Puncak Gunung Pusuk Buhit untuk meraskan keindahan alam Danau Toba, Tiupan semilir angin, dan kiata dapat menyaksikan Sunset Yang tenggelam dan pada saat itu kita akan merasa kan bahwa keindahan Danau Toba Yang dimiliki Pulau Samosir benar-benar indah. Setelah kita puas memandang dengan keindahan alam kita dapat turun dari puncak menuju aek ranggat yang berada di kaki Puncak Gunung Pusuk Buhit desa siogung-ogung dan di Aek Ranggat ini kita dapat memanjakan diri dengan berendam melepas lelah di dalam kolam. Maka lengkaplah perjalanan wisata sejarah Samosir yang tak akan pernah punah dan tak dapat dilupakan karena bukan hanya itu saja cerita wisata Samosir tetapi masih banyak lagi cerita wisata Samosir yang masih dapat kita angkat dan kita tunjukan kepada masyarakat yang berada di luar Samosir baik Nasional maupun Internasional.
Peran Masyarakat Dalam Pariwisata
Masyarakat merupakan sekelompok orang yang berada di suatu wilayah geografi yang sama dan memanfaatkan sumber daya alam lokal yang ada di sekitarnya. Di negara-negara maju dan berkembang pada umumnya pariwisata dikelola oleh kalangan swasta yang memiliki modal usaha yang besar yang berasal dari luar daerah dan bahkan luar negeri. Sehingga masyarakat lokal yang berada di suatu daerah destinasi pariwisata tidak dapat terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata. Ketidakterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan pariwisata sering kali menimbulkan opini bahwa masyarakat lokal bukan termasuk stakeholders dari pariwisata dan merupakan kelompok yang termarjinalisasi dari kesempatan bisnis dalam bidang pariwisata.
Pada dasarnya masyarakat lokal memiliki pengetahuan tentang fenomena alam dan budaya yang ada di sekitarnya. Namun mereka tidak memiliki kemampuan secara finansial dan keahlian yang berkualitas untuk mengelolanya atau terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata yang berbasiskan alam dan budaya. Sejak beberapa tahun terakhir ini, potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal tersebut dimanfaatkan oleh para pengelola wilayah yang dilindungi (protected area) dan pengusaha pariwisata untuk diikutsertakan dalam menjaga kelestarian alam dan biodiversitas yang ada di daerahnya.
Masyarakat lokal harus terlibat secara aktif dalam pengembangan pariwisata. Lebih jauh, pariwisata juga diharapkan memberikan peluang dan akses kepada masyarakat lokal untuk mengembangkan usaha pendukung pariwisata seperti; toko kerajinan, toko cindramata (souvenir), warung makan dan lain-lain agar masyarakat lokalnya memperoleh manfaat ekonomi yang lebih banyak dan secara langsung dari wisatawan yang digunakan untuk meningkatkan kesejastraan dan taraf hidupnya.
Tingkat keterlibatan masyarakat dalam pariwisata sangat berbeda dan ini tergantung dari jenis potensi, pengalaman, pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh individu atau masyarakat lokal tersebut. Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata dapat dilakukan dengan cara:
a. menyewakan tanahnya kepada operator pariwisata untuk dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik pariwisata serta turut serta memantau dampak-dampak yang ditimbulkan sehubungan dengan pengembangan pariwisata tersebut;
b. bekerja sebagai karyawan tetap atau paruh waktu di perusahaan operator pariwisata tersebut;
c. menyediakan pelayanan jasa kepada operator pariwisata seperti; pelayanan makanan, transportasi, akomodasi dan panduan berwisata (guiding);
d. membentuk usaha patungan (joint venture) dengan pihak swasta, yang mana masyarakat lokal menyediakan lokasi dan pelayanan jasanya sedangkan pihak swasta menangani masalah pemasaran produk dan manajemen perusahaan;
e. mengembangakan pariwisata secara mandiri dengan mengutamakan pengembangan pariwisata berbasiskan kemasyarakatan (community-based tourism).
Pada dasarnya masyarakat lokal memiliki pengetahuan tentang fenomena alam dan budaya yang ada di sekitarnya. Namun mereka tidak memiliki kemampuan secara finansial dan keahlian yang berkualitas untuk mengelolanya atau terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata yang berbasiskan alam dan budaya. Sejak beberapa tahun terakhir ini, potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal tersebut dimanfaatkan oleh para pengelola wilayah yang dilindungi (protected area) dan pengusaha pariwisata untuk diikutsertakan dalam menjaga kelestarian alam dan biodiversitas yang ada di daerahnya.
Masyarakat lokal harus terlibat secara aktif dalam pengembangan pariwisata. Lebih jauh, pariwisata juga diharapkan memberikan peluang dan akses kepada masyarakat lokal untuk mengembangkan usaha pendukung pariwisata seperti; toko kerajinan, toko cindramata (souvenir), warung makan dan lain-lain agar masyarakat lokalnya memperoleh manfaat ekonomi yang lebih banyak dan secara langsung dari wisatawan yang digunakan untuk meningkatkan kesejastraan dan taraf hidupnya.
Tingkat keterlibatan masyarakat dalam pariwisata sangat berbeda dan ini tergantung dari jenis potensi, pengalaman, pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh individu atau masyarakat lokal tersebut. Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata dapat dilakukan dengan cara:
a. menyewakan tanahnya kepada operator pariwisata untuk dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik pariwisata serta turut serta memantau dampak-dampak yang ditimbulkan sehubungan dengan pengembangan pariwisata tersebut;
b. bekerja sebagai karyawan tetap atau paruh waktu di perusahaan operator pariwisata tersebut;
c. menyediakan pelayanan jasa kepada operator pariwisata seperti; pelayanan makanan, transportasi, akomodasi dan panduan berwisata (guiding);
d. membentuk usaha patungan (joint venture) dengan pihak swasta, yang mana masyarakat lokal menyediakan lokasi dan pelayanan jasanya sedangkan pihak swasta menangani masalah pemasaran produk dan manajemen perusahaan;
e. mengembangakan pariwisata secara mandiri dengan mengutamakan pengembangan pariwisata berbasiskan kemasyarakatan (community-based tourism).
Sejarah Pariwisata Bali
Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan.
Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.
Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.
Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.
Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.
Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).
Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali. Para Wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.
Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penyebaran informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW). Bali selalu mengutamakan nama Indonesia, baik itu penyebaran informasi melalui brosur-brosur maupun pada pameran-pameran yang diadakan di negara asing. Sehingga dengan demikian diharapkan nama Indonesia lebih dikenal dan dipahami bahwa Bali adalah salah satu propinsi yang ada di Indonesia dan merupakan bagian dari Indonesia, bukan sebaliknya.
Untuk menampung kedatangan wisatawan asing ke Bali maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak di jantung kota Denpasar, disamping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan wisata Kintamani.
Pesanggrahan sangat strategis untuk dapat melihat pemandangan alam Kintamani yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan, bahkan pesanggrahan tersebut sangat strategis untuk menyaksikan saat Gunung Batur meletus maupun mengeluarkan asap.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, saat Gunung Batur meletus banyak roh-roh halus menyebar di sekitar Kintamani, karena itu masyarakat setempat membuat upacara agar ketentraman Desa terpelihara.
Pada saat Gunung Batur meletus pada tahun1994 yang lalu kawasan Kintamani makin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi kegiatan Gunung Batur. Dan masyarakat setempat pun kebagian rezeki dari kunjungan tersebut.
Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.
Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain :
The Island of Gods
The Island of Paradise
The Island of Thousand Temples
The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru
The Last Paradise on Earth dan lain sebagainya.
Kesemarakan Pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 - 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan dilanjutkan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1942-1949.
Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 9 (sembilan) tingginya lebih dari 15 meter.
Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor 13/Perbang. 1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di Daerah Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter.
Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel tersebut pernah terbakar pada tanggal 20 Januari 1993, pada saat hotel tersebut terbakar terjadi keanehan yaitu kamar nomor 327, satu-satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali.
Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada bulan November 1966 maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur dan terencana yaitu ketika dimulai dicanangkan Pelita I pada April 1969.
Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.
Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.
Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.
Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.
Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).
Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali. Para Wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.
Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penyebaran informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW). Bali selalu mengutamakan nama Indonesia, baik itu penyebaran informasi melalui brosur-brosur maupun pada pameran-pameran yang diadakan di negara asing. Sehingga dengan demikian diharapkan nama Indonesia lebih dikenal dan dipahami bahwa Bali adalah salah satu propinsi yang ada di Indonesia dan merupakan bagian dari Indonesia, bukan sebaliknya.
Untuk menampung kedatangan wisatawan asing ke Bali maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak di jantung kota Denpasar, disamping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan wisata Kintamani.
Pesanggrahan sangat strategis untuk dapat melihat pemandangan alam Kintamani yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan, bahkan pesanggrahan tersebut sangat strategis untuk menyaksikan saat Gunung Batur meletus maupun mengeluarkan asap.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, saat Gunung Batur meletus banyak roh-roh halus menyebar di sekitar Kintamani, karena itu masyarakat setempat membuat upacara agar ketentraman Desa terpelihara.
Pada saat Gunung Batur meletus pada tahun1994 yang lalu kawasan Kintamani makin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi kegiatan Gunung Batur. Dan masyarakat setempat pun kebagian rezeki dari kunjungan tersebut.
Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.
Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain :
The Island of Gods
The Island of Paradise
The Island of Thousand Temples
The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru
The Last Paradise on Earth dan lain sebagainya.
Kesemarakan Pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 - 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan dilanjutkan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1942-1949.
Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 9 (sembilan) tingginya lebih dari 15 meter.
Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor 13/Perbang. 1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di Daerah Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter.
Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel tersebut pernah terbakar pada tanggal 20 Januari 1993, pada saat hotel tersebut terbakar terjadi keanehan yaitu kamar nomor 327, satu-satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali.
Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada bulan November 1966 maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur dan terencana yaitu ketika dimulai dicanangkan Pelita I pada April 1969.
Langganan:
Postingan (Atom)